#menubar{ width:900px; margin-top:5px; float:center; background:#de360f; height:35px; border:1px solid #de360f; } #menubar-left{ float:left; width:900px; padding-top:1px; } #menubar ul{ position:relative; overflow:hidden; padding:0; margin:0; font-weight:none; font-size:12px; }

Rabu, 02 Januari 2013

kelangkaan bbm bersubsidi

JAKARTA – Kelangkaan BBM bersubsidi di sejumlah tempat di Indonesia membuat pemerintah berencana menyiapkan anggaran sebesar Rp6 triliun.
Dana itu akan diperuntukan bagi penambahan kuota BBM bersubsidi.
Di sisi lain, Ketua Komisi VII DPR dari Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana mengisyaratkan kenaikan harga BBM sebagai pilihan yang mesti dilakukan. 
Sutan Bhatoegana mengatakan pemerintah lemah dalam pengawasan BBM bersubsidi sehingga kuota yang tersedia sejak awal selalu kurang.
“Begini, pertama kita sesalkan adalah akibat dari satu pengawasan yang kurang di lapangan. Kedua, tidak terbendung orang cenderung banyak menyelundup dan menimbun. Jadi mata rantai bisnis komoditas ini [BBM bersubsidi] sudah tidak sehat,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Minggu (2/12).
Menurut Sutan, pemerintah harus menjamin keberadaan BBM di tengah masyarakat. Sehingga tingkat pengawasan mesti ditingkatkan. Hal ini untuk mencegah terjadinya penimbunan yang masih banyak terjadi di Tanah Air.
Sutan berharap ada peninjauan kembali harga BBM subsidi. Karena bila terus-terusan over kuota, dikhawatirkan akan semakin menambah kaya para penyelundup.


Menjelang akhir tahun, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi di beberapa daerah makin meluas. Pihak Pertamina akhirnya memutuskan untuk menyetop pengendalian pasokan BBM bersubsidi menyusul munculnya kerawanan sosial yang dikhawatirkan akan mengganggu kepentingan nasional yang lebih besar.
Pengamatan SH, kelangkaan BBM subsidi terjadi di Provinsi Lampung. Jika sebelumnya hanya solar yang langka, sejak Sabtu (24/11), premium juga susah didapat. Untuk menghindari kekosongan stok, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memberlakukan pembatasan pembeliam.
Untuk kendaraan roda empat atau mobil pembelian BBM subsidi hanya diperkenankan maksimal 20 liter. Sementara itu, untuk kendaraan roda dua atau sepeda motor, pembelian maksimal sebanyak 3 liter. “Aturan ini sudah dua hari ini kita jalankan sesuai surat edaran Gubernur Lampung,” ujar Feni, petugas SPBU Rajabasa, Bandar Lampung, Minggu (25/11).
Aturan pembatasan pembelian BBM subsidi ini berlaku di semua SPBU di Lampung. Akibatnya selain terjadi antrean, pembatasan ini juga menyulitkan pengemudi yang mau keluar kota. Pasalnya, sebagian besar SPBU di berbagai daerah tingkat dua di Provinsi Lampung sudah kekurangan BBM sejak sepekan terakhir.
“Yang paling susah mobil solar ini. Jika di eceran solar nggak ada, mau diisi apa tanki mobil, sementara kita ada tugas ke daerah-daerah,” ujar Erik, seorang sales obat-obatan perikanan yang sehari-hari mengemudikan mobil minibus Panther..
Antrean panjang di berbagai SPBU tampak pada mobil-mobil berbahan bakar jenis solar. Antrean bertambah parah karena bertumpuk dengan truk dan bus-bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Bahkan Minggu tengah malam tampak sejumlah bus AKAP tujuan berbagai kota di Jawa masuk ke dalam Kota Bandar Lampung untuk mencari solar.
Hal yang membuat “pusing” sopir truk atau bus adalah adanya pembatasan pembelian hanya Rp 200.000. “Cukup sampai mana jika truk segede ini diisi solar 22 liter?” ungkap Parno yang mengemudikan truk yang membawa besi tujuan Palembang.
Sejumlah SPBU di Kota Pematangsiantar telah kehabisan stok BBM jenis bensin dan solar hingga Senin (26/11) pagi ini. Sejak Sabtu (24/11), beberapa SPBU di Jalan Medan dan Jalan DI Panjaiatan serta di Jalan Melanchton Siregar tampak memasang papan tanda Premium dan solar habis. Kosongnya BBM tersebut menyebabkan kalangan konsumen kelabakan mencari bahan bakar kendaraan roda dua dan empat. Mereka berupaya mendatangi pengecer BBM sampai ke desa desa di pinggiran kota.
Para pedagang pengecer BBM mengaku kehabisan stok sudah terjadi sejak empat hari lalu, terutama solar lebih dahulu. “Ini hari keempat kami kesulitan memperoleh BBM,” kata Manurung seorang pengecer. Kalaupun ada, mereka harus membeli ke SPBU di kota Tebingtinggi atau Bandar Pasir Mandoge, sekitar 45 kilometer (km)dari Pematangsiantar.
Assistant Costumer Relation Pertamina FRM Region I, Sonny mengatakan, kekosongan terjadi karena jadwal kuota BBM subsidi ke beberapa SPBU telah habis pada Minggu (25/11) hingga menunggu jadwal selanjutnya. Secara keseluruhan penyaluran BBM di Sumut sudah melewati dari yang ditentukan oleh pemerintah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar